Penurunan Suku Bunga KPR Tak Signifikan

BANDUNG, Penurunan suku bunga perumahan sebesar 0,5 persen dari 14,5 persen menjadi 14 persen yang mulai berlaku Rabu (1/4) dinilai kurang signifikan dalam menyelamatkan sektor properti domestik yang terancam goyah akibat krisis finansial global. Pengembang perumahan di Jawa Barat berharap, perbankan dapat menurunkan suku bunga kredit pemilikan rumah (KPR) hingga 12 persen.

Direktur Eksekutif PT Gardanusa Sutadelta yang merupakan pengembang perumahan Cicalengka Cengkeh Indah, Endrawan Natawiria, menilai, suku bunga sebesar 14 persen masih tergolong sangat tinggi sehingga belum akan mendongkrak penjualan perumahan kelas menangah yang kini tengah seret.

"Penjualan unit perumahan kami untuk kelas menengah pada Januari dan Februari masih sekitar lima unit per bulan," ungkapnya di Bandung, Rabu.

Minimnya penjualan rumah kelas menengah di awal tahun ini juga dipengaruhi kebijakan perbankan yang semakin berhati-hati dalam mengucurkan kredit kepada para pekerja di sektor tertentu yang terancam PHK, yakni tekstil dan produk tekstil (TPT). Oleh karena tidak ada akses finansial dari kalangan perbankan, pihak properti pun terpaksa menyisihkan para calon pembeli perumahan dari kalangan tersebut.

Wakil Sekretaris Realestat Indonesia (REI) Jabar, Yuyun Yudhiana, mengatakan, penurunan nilai suku bunga KPR memang sangat diharapkan oleh para pengembang. Menurut dia, hal ini dapat merangsang konsumen untuk mengajukan proses kepemilikan rumah.

Penurunan BI Rate hingga 7,75 persen seharusnya disikapi kalangan perbankan dengan menurunkan tingkat suku bunga lebih besar. Angka kewajaran KPR yang diajukan kalangan pengembang berkisar 12-12,5 persen.

Meski demikian, kata dia, penurunan suku bunga 50 basis poin tersebut diharapkan bisa dijadikan perangsang bagi masyarakat. Terlebih, ketika kondisi perekonomian global masih belum sehat. Krisis ekonomi global tidak dapat dimungkiri membuat pemasaran properti tersendat.

Pada 2009, diharapkan 10.000 rumah kelas menengah mewah di seluruh wilayah Jawa Barat dapat terjual. Angka ini sedikit lebih tinggi jika dibandingkan realisasi 2008 yang hanya mencapai 8.000 unit.

"Tahun lalu, realisasi penjualan properti mencapai sekitar 8.000 unit, padahal targetnya 10.000 unit. Begitu juga untuk 2009 ini kami berharap penjualan properti bisa mencapai sekitar 10.000 unit karena, pada kondisi krisis global seperti sekarang ini, peningkatan dirasakan cukup sulit," tukas Yuyun.

Menurut Yuyun, pengembang tetap menggelar berbagai pameran di beberapa daerah, memberikan diskon khusus, dan kemudahan pola pembayaran yang diharapkan mampu mendongkrak angka penjualan.

Ketua Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Seluruh Indonesia (AP2RSI) Jabar Ferry Sandhiyana mengatakan, maraknya PHK yang dilakukan di Indonesia diprediksi akan mengurangi penjualan Rumah Sederhana sehat (RSh) pada 2009 ini. Penurunan penjualannya diperkirakan mencapai 20 persen.

"Tahun 2008, AP2RSI Jabar menargetkan penjualan RSH mencapai 12.000 unit. Akan tetapi, hingga akhir tahun, realisasinya hanya sekitar 6.000 unit. Berkaca pada pengalaman itu, tahun ini target penjualan RSH hanya 6000-8000 unit. Hanya saja, realisasinya kemungkinan hanya 80 persen atau sekitar 5.000 unit," ujar Ferry.