Subsidi Bunga Kredit RSH Dihapus

Penghapusan subsidi bunga kredit kepemilikan rumah (KPR) bagi Rumah Sederhana Sehat (RSH) untuk diganti dengan pemberian fasilitas likuiditas, dinilai sebagai suatu keuntungan bagi para pengusaha atau pengembang.


Menurut Sekjen Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestate Indonesia (DPP REI), Reddy Hartadji, pengusaha sangat mengharapkan program likuiditas tersebut berjalan lancar.

"Pengusaha akan menikmati, pengusaha akan sangat mengharapkan program ini berkembang baik, karena kan Kementrian yang mencari sumber dana," katanya usai jumpa pers DPP REI di Jakarta, Kamis (24/6/2010).

Dengan adanya fasilitas likuiditas, kata Reddy, pengembang akan diuntungkan dengan kredit konstruksi yang lebih rendah, yakni kurang dari 8 persen karena mendapat alokasi dana dari perbankan dengan tingkat suku bunga yang murah.

Keuntungan tersebut juga akan didapat konsumen. Menurut Reddy, dengan adanya likuiditas konsumen diharapkan akan menerima 7 persen bunga per-tahun. Sehingga, jika sekarang subsidi diberikan hingga empat tahun, keuntungan dari likuiditas akan dapat diberikan kepada konsumen hingga mungkin 10 tahun.

"Sehingga balik lagi, dana bergulir, di harapkan dengan begitu konsumen akan menerima 7 persen bunganya per tahun, jadi murah," ujar Reddy.

Sebelumnya, Kementrian Negara Perumahan Rakyat menetapkan penghapusan subsidi KPR untuk RSH dan menggantinya dengan memberlakukan fasilitas likuiditas. Dengan demikian, subsidi langsung diberikan kepada calon konsumen dan pengembang. Hal tersebut dimaksudkan agar subsidi lebih tepat sasaran. Sumber Kompas