BI: Indeks Harga Properti Residensial Naik

Hasil survei yang dilakukan Bank Indonesia (BI) Semarang pada triwulan II tahun 2010 menunjukkan ada peningkatan indeks harga properti residensial (IHPR). "Secara triwulanan (quarter to quarter), IHPR meningkat 0,30 persen lebih tinggi dari triwulan I tahun 2010 yang tercatat sebesar 0,23 persen," kata Pemimpin BI Semarang, Ratna E Amiaty, di Semarang, Jumat (20/8/2010).


Ratna mengatakan, jika dilihat secara tahunan (year on year), IHPR mengalami kenaikan sebesar 0,95 persen atau melambat dibandingkan dengan peningkatan IHPR pada triwulan II tahun 2009 yang sebesar 1,10 persen.

Kenaikan harga yang terjadi pada triwulan II tahun 2010 terutama didorong oleh kenaikan harga pada rumah tipe kecil (0,38 persen), diikuti oleh kenaikan harga pada rumah tipe menengah (0,34 persen) dan tipe rumah besar (0,19 persen). Kenaikan harga tanah, harga bahan bangunan atau material, dan tenaga kerja menjadi faktor pendorong terjadinya peningkatan harga ini.

Ratna menjelaskan, jika dilihat dari segi permintaan, semua tipe rumah mengalami peningkatan, dengan permintaan terbesar terjadi pada rumah tipe menengah. Perbaikan infrastruktur yang dilakukan para pengembang, seperti jalan, taman dan penyediaan fasilitas lainnya, serta model yang mengikuti selera konsumen merupakan daya tarik tersendiri untuk memiliki tipe rumah menengah.

Sejalan dengan peningkatan permintaan rumah, penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) bank umum pada triwulan II tahun 2010 juga masih mengalami peningkatan meskipun melambat (0,24 persen) dibandingkan kenaikan pada triwulan I tahun 2010 (0,39 persen). Pada triwulan III tahun 2010, IHPR diperkirakan masih akan mengalami peningkatan, namun sedikit melambat dibandingkan IHPR pada triwulan II tahun 2010.

Melambatnya kenaikan IHPR lebih disebabkan karena keterbatasan lahan yang mengakibatkan kenaikan harga jual rumah dan persiapan menyambut Lebaran 2010, sehingga konsumen lebih memprioritaskan untuk pemenuhan kebutuhan pokok.