Bisnis Properti Asia Pasifik Makin Diminati

Arus investasi di sektor real estat di kawasan Asia Pasifik terus meningkat secara pesat, bahkan melebihi yang terjadi di benua Amerika dan di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. Hal itu didukung menguatnya ekonomi dan pasar secara fundamental.

Tingkat pertumbuhan produk domestik bruto (GDP) di negara-negara Asia sangat kuat di enam bulan pertama tahun ini dengan China, India, dan Singapura tercatat sebagai negara-negara dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di kawasan Asia Pasifik.



GDP China bahkan mengungguli Jepang, sehingga menjadikannya sebagai negara eksportir terbesar dan negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia, dan saat ini merupakan kontributor terbesar atas pertumbuhan tingkat GDP dunia.

Menurut Sigrid Zialcita, managing director Research Asia Pacific, melalui kebijakan-kebijakan stimulus yang dilakukan, pemerintah telah memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, kenaikan ekspor, dan ketahanan atas tingkat permintaan domestik.

"Sekaligus, merupakan pendorong utama dari pulihnya perekonomian di kawasan Asia Pasifik," kata dia, sebagaimana dilansir dalam laporan "Economic Pulse" yang baru saja dikeluarkan Cushman & Wakefield di Jakarta, Jumat 22 Oktober 2010.

Sigrid menambahkan, kemajuan perekonomian secara keseluruhan telah memberikan dukungan yang kuat terhadap sektor real estat komersial. Meskipun aktivitas investasi di kuartal terakhir dalam tingkat moderat, hal ini akibat diberlakukannya beberapa kebijakan pemerintah di beberapa negara di kawasan Asia Pasifik dalam rangka mencegah terjadinya perekonomian yang memanas (overheating).

Namun terlihat, tingkat arus investasi yang masuk ke sektor properti di Asia Pasifik melebihi kawasan lainnya. "Hampir di seluruh pasar Asia Pasifik menunjukkan peningkatan akan permintaan ruang kantor, yang mengakibatkan berkurangnya tingkat kekosongan dan menguatnya harga sewa ruang kantor di beberapa negara utama di kawasan Asia Pasifik tahun ini," tuturnya.

Dia melanjutkan, koombinasi perekonomian yang membaik, meningkatnya tingkat persewaan, dan tingkat likuiditas yang cukup tetap akan menjadi kekuatan pendorong pasar yang utama untuk terciptanya prospek aktivitas investasi yang solid di kawasan Asia Pasifik.

"Harga sewa ruang kantor telah stabil dan membaik setelah terjadinya penurunan di 2008. China, Hongkong, dan Singapura melaporkan kenaikan harga sewa ruang kantor dalam dua kuartal terakhir sedangkan negara-negara lainnya dalam kondisi stabil," kata diat.

David Cheadle, managing director PT Cushman & Wakefield Indonesia mengatakan bahwa Indonesia dengan posisi perekonomian yang terbesar di Asia Tenggara terus melaju tahun ini, setelah hampir tidak terpengaruh dengan terjadinya penurunan ekonomi global di tahun lalu. Kuatnya permintaan domestik yang dikombinasikan dengan kenaikan tingkat ekspor dan investasi telah mendorong pertumbuhan ekonomi.

"Kebijakan fiskal dan keuangan diharapkan akan tetap akomodatif untuk menjaga pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan. Sehingga, permintaan akan ruang perkantoran diharapkan akan terus meningkat bahkan melebihi pasokan baru yang direncanakan akan masuk ke pasar daerah Jakarta CBD hingga tahun 2011," tuturnya.

Sementara itu, pasokan ruang perkantoran baru ke pasar daerah non-CBD juga akan bertambah di 12 bulan ke depan dan kemungkinan akan dapat menahan kenaikan tingkat hunian. "Harga sewa juga diharapkan naik seiring dengan tingkat hunian yang meningkat," kata David.

Menurut laporan C&W, momentum pertumbuhan di Asia Pasifik diperkirakan terus berlanjut hingga akhir tahun ini dan tahun selanjutnya. Kecenderungan ini akan terus berlanjut walaupun terjadi penurunan ekonomi secara global. Semua negara-negara di Asia Pasifik yang dicermati saat ini akan terus secara stabil mencatat tingkat pertumbuhan GDP antara 5–6 persen sampai tahun depan.

Aktivitas ekspor tetap akan menjadi mesin pertumbuhan ekonomi, dengan meningkatnya permintaan dari negara-negara Asia lebih jauh akan dapat mengarah kepada integrasi kawasan Asia Pasifik, sehingga membantu dalam membendung melambatnya perdagangan dengan negara-negara ekonomi maju. Permintaan domestik akan terus menjadi kekuatan pendorong untuk kemajuan ekonomi kawasan Asia Pasifik.

Kenapa diminati ?
Harga Properti Indonesia Paling Murah di Asia
Tahukah Anda harga properti di Indonesia hanya seperlimabelas dari Singapura. Harga rata-rata lahan properti di Indonesia ternyata paling murah dibandingkan 11 negara Asia lainnya atau hanya sekitar US$1.381 per meter persegi (m2). Sementara itu, harga termahal di Hong Kong sebesar US$16.422 per m2.

Berdasarkan informasi Global Property Guide, hingga awal kuartal II-2010, harga rata-rata lahan di Indonesia jauh lebih rendah dibandingkan Kamboja, Filipina, dan Malaysia.

Nilai rata-rata lahan properti di setiap negara ini dihitung berdasarkan riset harga lahan perumahan yang dikumpulkan dari biro periklanan dan kantor pemasaran, yang merujuk beberapa indikator seperti penjualan bangunan baru, sewa, dan purnajual/bekas (resale).

Adapun, lahan properti yang dimaksud adalah lahan yang dimanfaatkan untuk apartemen, kondominium, lahan industri, hingga perkantoran di sejumlah kawasan penting perkotaan dan pusat bisnis yang menyediakan fasilitas penyewaan apartemen.

Menurut data itu, harga rata-rata lahan di Malaysia lebih mahal 3,11 persen dibandingkan di Indonesia atau senilai US$1.424 per m2. Sedangkan Filipina lebih mahal 47,21 persen sebesar US$2.033 per m2. Begitu pula Kamboja, lebih tinggi 93,19 persen sebesar US$2.668 per m2.

Sedangkan data Cushman & Wakefield Indonesia (CWI) memperlihatkan, harga lahan kondominium di Jakarta rata-rata berkisar Rp4,5 juta (US$500) per m2 hingga Rp18,8 juta (US$2.089) per m2.

Jika dibandingkan dengan harga properti Singapura, harga lahan di Indonesia lebih rendah 720 persen, mengingat harga rata-rata lahan di Singapura mencapai US$11.324 per m2. Sedangkan harga lahan di China sebesar US$5.449 per m2 dan Jepang US$12.884 per m2.

Sementara itu, hasil survei properti residensial Bank Indonesia menyebutkan, Indeks Harga Properti Residensial masih menunjukkan kenaikan, baik secara triwulanan (1,04 persen) maupun tahunan (2,89 persen). Kenaikan harga yang terjadi sejalan dengan meningkatnya penjualan properti residensial.

Kenaikan harga properti residensial diperkirakan masih berlanjut pada triwulan III-2010, namun dengan peningkatan yang melambat. "Itu kenapa orang asing banyak yang mengalihkan investasi propertinya ke Indonesia," ujar Direktur PT Lippo Karawaci Tbk, Jopy Rusli, di Jakarta, Senin 11 Oktober 2010.

Tingginya minat asing terhadap properti Indonesia juga ditunjukkan dengan hasil kunjungan Lippo Karawaci beberapa waktu lalu ke beberapa negara di Eropa.

September lalu, manajemen menjanjikan kepada investor bahwa mereka akan meningkatkan nilai aset perseroan hingga US$8 miliar dalam lima tahun ke depan. Saat ini, nilai aset perseroan mencapai US$3 miliar.

Jopy mencontohkan salah satu produk Lippo yaitu Kemang Village. Komposisi penyewa asing mencapai 25 persen. "Kemang is expatriate preferred areas," kata Jopy. Dia mengakui, dalam beberapa hari ke depan perseroan akan melakukan penyerahan kunci untuk unit apartemen di Kemang Village.

Dia menambahkan, jika pemerintah mengeluarkan aturan hak kepemilikan asing atas properti hingga 90 tahun, sektor properti bakal melambung. "Singapura saja bisa sampai 99 tahun," ujar Jopy.

Pemerintah saat ini tengah menggodok aturan kepemilikan properti bagi orang asing. Aturan itu merupakan perubahan Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 1996 yang di dalamnya akan membolehkan asing menyewa properti di Indonesia.

Asing diperbolehkan untuk menyewa properti di Indonesia selama 90 tahun. Kendati demikian, pemerintah tidak akan memberikan kebebasan mutlak atas kepemilikan asing.

Perubahan peraturan yang memudahkan asing memiliki properti di Indonesia itu diperkirakan mengalirkan investasi asing US$2-3 miliar ke Tanah Air.

Terkait hal ini, Presiden Direktur Lippo Karawaci, Ketut Budi Wijaya, mengatakan pihaknya akan berkonsentrasi pada tiga bidang properti seperti mal, rumah sakit, dan residensial. Lini bisnis residensial atau perumahan merupakan penyumbang pendapatan terbesar perseroan saat ini.

Laporan Keuangan Lippo Karawaci pada kuartal III-2010 menunjukkan, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp352,7 miliar atau naik 47,6 persen dari periode sama tahun lalu.

Dia menuturkan, perseroan akan melakukan ekspansi pada dua sektor yaitu rumah sakit dan mal. "Kami akan bangun 20 rumah sakit dan 15 mal dalam lima tahun ke depan," kata Ketut. Perseroan membutuhkan pendanaan masing-masing US$450 juta dan US$525 juta.

Direktur Keuangan Lippo Karawaci Roberto Felicino mengaku perseroan saat ini, belum memutuskan mengenai pemenuhan kebutuhan dana itu. "Kami akan mencari dana yang paling murah," kata dia. Ketika ditanya apakah obligasi menjadi pilihan, ia mengatakan pihaknya belum memutuskan. "We see the market," ujar Roberto.

Lippo Karawaci mencatat kenaikan pendapatan pada kuartal III-2010 sebesar 27 persen menjadi Rp765,8 miliar dibanding periode sama tahun lalu. Kenaikan pendapatan ini membuat laba bersih perseroan meningkat 29 persen menjadi Rp127,7 miliar.

"Pendapatan operasional hingga kuartal III (year to date) naik 13,6 persen menjadi Rp2,22 triliun dan laba bersih 13,2 persen menjadi Rp348,7 miliar," kata Ketut.

Adapun hingga akhir tahun ini, perseroan memproyeksikan pendapatan naik 17 persen dibandingkan tahun lalu menjadi Rp3 triliun dan laba bersih meningkat 35 persen menjadi Rp524 miliar dibanding realisasi 2009. (art)
• VIVAnews