Pembeli Indonesia Terus Diincar

Pengembang properti dari Singapura semakin gencar mencari calon pembeli dari Warga Negara Indonesia (WNI). Mereka bukan hanya menawarkan apartemen, tetapi juga kondominium hotel (kondotel). Properti yang dipasarkan bukan hanya terletak di Singapura saja, tapi ada juga yang di London.


Salah satunya adalah Far East Organization. Saat ini, Far East sedang memasarkan dua menara apartemen Cyan Gardens di Bukitimah, Singapura. Tanggal 18-21 Agustus kemarin, mereka mengadakan pameran di Kelapa Gading, Jakarta dan memasarkan 182 unit apartemen. Perusahaan tersebut mematok harga Sin$ 5,3 juta atau sekitar Rp 37 miliar untuk satu unit dengan tiga kamar tidur, Sin$ 4,9 juta untuk unit dengan empat kamar tidur dan penthouse seharga Sin$ 8,2 juta.

"Tiga hari dipasarkan, sudah terjual 90%," klaim Novi Candra, Perwakilan Pemasaran Fas East, tanpa merinci, Minggu (21/8/2011) lalu.

Far East menawarkan uang muka cukup 5%. Selain itu, Far East juga menawarkan paket mengunjungi langsung proyek Cyan Gardens secara gratis bagi calon pembeli yang serius. Karena laris manis itu pula, Far East yang masih memiliki 20 proyek lain bakal kembali memasarkan proyek sejenis dalam waktu dekat ini.

"Semester II ini, rencananya memasarkan apartemen di Singapura utara," jelas Novi.

Apartemen di London
Pengembang properti lainnya, Singapore Land Limited, juga akan memasarkan tiga tower apartemen The Trizone masing-masing 24 lantai pada akhir Agustus ini. Jumlahnya mencapai 289 apartemen mewah, dengan harga mulai dari Sin$ 1.476 per kaki persegi.

"Lokasinya dekat dengan Orchard, tepatnya masuk Holland Area," kata Ruby Ong, tenaga pemasaran proyek itu.

Sementara Qudoss Investment, perusahaan investasi properti asal Singapura dan telah memiliki kantor perwakilan di Indonesia, sejak tiga bulan lalu akan memasarkan proyek kondotel, apartemen mahasiswa (student hotel), dan panti jompo di London.

"Banyak WNI kuliah di London, tapi ruang hotel dan pasokan kos sangat terbatas," jelas Lia Meyrina, Marketing Representative Qudoss for Indonesia.

Menurut Lia, kekurangan ruang hotel di London mencapai 30.000 unit, sedangkan kamar kos jauh lebih besar lagi. Harganya juga lebih murah dibandingkan properti di Singapura, sehingga cocok untuk investasi. Tiap unit harganya sekitar Rp 700 juta.

"London merupakan tujuan wisata kedua di Eropa setelah Perancis," kata Lia.

Jopie Hori, Master Bronze Century21, bilang, permintaan WNI terhadap apartemen di Singapura tumbuh 20% per tahun, sebanding dengan pertumbuhan jumlah properti di negara itu. Sekitar 40% di antaranya merupakan milik warga asing dan hampir 80% WNI.

"Wajar, karena banyak WNI yang kuliah di Singapura. Dari sisi investasi juga sangat menguntungkan, bisa memberi yield hingga 20%," jelasnya.

Sedang untuk wilayah Eropa, menurut Jopie permintaan belum terlalu besar, namun tetap ada.

"Tidak semanis Singapura. Apalagi, di Eropa sedang berlangsung krisis ekonomi," pungkas Jopie. KOMPAS