Bisnis Broker Terus Meroket

Pertumbuhan properti ikut mendorong perkembangan bisnis broker. Fransiskus Xaverius Mardi Rahardja, penggagas sekaligus pembina Asosiasi Real Estat Broker Indonesia (Arebi) menaksir pelaku bisnis broker tumbuh 30% tahun ini dibandingkan tahun lalu.



Mardi Rahardja mencatat, jumlah anggota Arebi saat ini 250 - 300 lembaga. Itu yang terdaftar. Maksud Mardi, jika ditambah yang tidak menjadi anggota Arebi bisa di atas 300. Adapun sekitar 70% di antaranya berlokasi di Jakarta. Selebihnya di Surabaya dan Medan atau kota yang pertumbuhan propertinya pesat.

Menurut Mardi, bisnis broker properti makin ditaksir lantaran tergoda iming-iming komisi. Dia menggambarkan, dari developer ke agen (lembaga broker) pemberian komisi bisa 3%. Sedangkan dari agen ke pelaku (tenaga pemasar) antara 1,5% sampai 2%. Kemudian, komisi yang sampai ke tangan broker yang menjajakan ke konsumen (pembeli) bisa 1%.
"Ambil contoh rumah yang harganya Rp 600 juta, satu broker yang turun langsung bisa dapat Rp 6 juta," ujar Mardi.
Sebelum properti marak dua tahun terakhir ini, seorang broker meraup komisi 2% dari tiap unit properti. Sekarang, 1% saja diambil. Itu lantaran unit properti makin banyak dan pelakunya bertambah. Mardi melihat broker masih mengandalkan komisi dari penjualan rumah petak (landed house) ketimbang properti lain seperti perkantoran, kawasan komersial, ataupun strata title. KOMPAS