Orang Kaya Dunia Masih Incar Rumah Mewah

Rumah mewah yang diincar itu berada di kawasan yang dianggap sebagai safe heaven.
Lembaga konsultan properti internasional, Knight Frank LLP mengungkapkan orang-orang kaya dunia saat ini tengah mengincar pasar hunian mewah di negara-negara yang dianggap memiliki kualitas safe heaven.

Temuan tersebut terungkap dari laporan Knight Frank Global House Price Index kuartal II-2011 yang diterima VIVAnews.com di Jakarta.

Knight Frank menilai kalangan masyarakat kaya ini tetap mengincar rumah hunian mewah kendati pangsa pasar sektor ini di belahan dunia lain masih terisolasi fase pelemahan pertumbuhan harga perumahan global.

Kalangan kaya ini umumnya mencari rumah hunian mewah di kawasan negara dengan persyaratan memiliki keamanan politik yang stabil, serta kualitas hukum yang jelas. Persyaratan lain yang diminta kalangan mewah ini adalah tingkat kualitas kehidupan yang tinggi sebagai acuan investasi properti kalangan ini.

Knight Frank mencatat, di tengah pelemahan pertumbuhan perumahan global selama kuartal II-2011 sebesar 0,1 persen, industri perumahan di Asia masih menunjukkan kinerja yang lebih baik. Selama 12 bulan terakhir, industri properti khususnya perumahan di Asia tumbuh 8 persen.

Masyarakat kaya dunia yang umumnya berlokasi di negara maju kini tengah menghadapi kendala, dengan kepercayaan pasar masih rendah. Kondisi ini diperparah dengan pendapatan rumah tangga yang semakin berkurang.

Sementara itu, industri perumahan di kawasan Asia umumnya memperoleh dampak positif dari kebijakan pemerintah yang memperlambat laju inflasi harga rumah.

Angka statistik terbaru mengenai harga pertumbuhan tahunan perumahan di Singapura umumnya naik 6,7 persen pada kuartal II-2011. Namun, selama 12 bulan terakhir, terjadi penurunan harga perumahan sekitar 37 persen.

Knight Frank mengungkapkan prediksi harga rumah di kawasan negara maju saat ini sulit diperkirakan. Upaya pengenaan suku bunga rendah diharapkan dapat memacu penjualan daripada pertumbuhan harga.

Harga perumahan dunia diproyeksikan pulih kembali pada 2012 dan level puncak penurunan akan terus berlanjut hingga akhir 2011. (art)
• VIVAnews