ASURANSI PROPERTI: Sebaran objek properti didata ulang

Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) akan meninjau ulang dan melengkapi data statistik properti eksisting untuk mencari jalan keluar terhadap kondisi bisnis asuransi properti yang dinilai semakin mengkhawatirkan.


Direktur Eksekutif AAUI Julian M Noor mengatakan industri sepakat bisnis properti sudah pada kondisi mengkhawatirkan karena tarif risiko untuk perlindungan gempa bumi yang sangat kecil.

“Ada keinginan kuat dari pelaku industri untuk keluar dari kondisi ini. Oleh karena itu kami inisiasi melakukan sesuatu untuk membuat persaingan lebih baik dan lebih sehat antara lain dengan memperbaiki data statistik properti yang menyeluruh,” katanya pekan ini.

Asosiasi, ujarnya, sedang menjajaki dan mempelajari data-data properti yang diperoleh dari Badan Pengelola Pusat Data Asuransi Nasional (BPPDAN).

Dia mengatakan data statistik properti yang dimiliki oleh lembaga tersebut tidak cukup sehingga pihaknya juga bekerja sama dengan empat perusahaan reasuransi lokal untuk mendapatkan data tambahan tentang statistik properti.

“Kami sudah datang ke empat perusahaan lokal tersebut. Mereka akan memberikan data untuk melengkapi data BPPDAN. Kami menggunakan dua sumber data agar representatif sebagai dasar untuk memperbaiki kondisi di pasar asuransi properti,” ujarnya.

Dia menargetkan akhir Februari 2011 pihaknya sudah memiliki data memadai tentang statistik properti yang merupakan gabungan dari data BPPDAN dan data industri reasuransi.
Untuk data statistik bisnis properti, industri memiliki BPP DAN yang melakukan pengelolaan dan analisis profil risiko yang dapat digunakan sebagai acuan.

Namun, pelaku industri cenderung tidak menggunakan data-data yang disediakan BPP DAN karena dianggap tidak ada kewajiban untuk menggunakan data tersebut.

Ketua Umum AAUI Kornelius Simanjuntak menambahkan pihaknya sedang mengupayakan agar harga asuransi properti dapat memadai.

“Kalau harga terlalu tinggi akan merugikan konsumen. Tetapi kalau harga terlalu rendah bisa berbahaya untuk perusahaan. Hal yang dikhawatirkan adalah tidak bisa membayar ketika ada klaim.,” ujarnya.

Di sisi lain, ujar Julian, pihaknya juga akan bertemu dengan industri pialang asuransi dan reasuransi untuk mendiskusikan persoalan tersebut. Hal itu, ujarnya, karena persaingan bisnis properti paling sengit terjadi pada segmen korporasi di mana terlibat banyak pialang.

Ketua Asosiasi Perusahaan Pialang Asuransi dan Reasuransi (Apparindo)Nanan Ginanjar menilai sudah saatnya asosiasi bersikap mengingat sudah tidak kondusifnya bisnis asuransi properti karena harga yang terlalu rendah.

Iindustri, ujarnya, tidak bisa hanya mengikuti harga pasar terus. Menurut dia, sudah saatnya industri bersikap dan mengusahakan aturan agar terbentuk mekanisme pasar yang lebih baik dalam lini bisnis asuransi properti.

“Untuk itu perlu keterlibatan pihak-pihak yang berkepentingan dalam bisnis asuransi properti, terutama asosiasi sebagai kepanjangan pemerintah dalam membentuk mekanisme pasar,” katanya. Bisnis.com