Pembayaran Rumah Tertinggi Melalui KPR

Sepanjang 2011 lalu metode pembayaran pasar properti perumahan atau residensial didominasi oleh pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Sebanyak 58 % konsumen membayar menggunakan fasilitas KPR, disusul 22 % dengan tunai bertahap, dan 20 % dengan tunai keras.

Demikian paparan kuartal I tahun 2012 yang disampaikan oleh Cushman & Wakefield Indonesia. Capaian serupa berbeda persentase pada pasar residensial juga terjadi pada dua tahun sebelumnya, yakni 2010 dan 2009. Pada 2010, konsumen membayar dengan KPR sebanyak 57 %, tunai bertahap 23 %, dan tunai keras 20 %. Pada 2009, pembiayaan dengan KPR mencapai 53 %, tunai bertahap 23 % dan tunai keras 23 %. Paparan ini menyebutkan pula, bahwa pasar residensial merupakan satu dari tiga sektor properti yang akan aman dari kemungkinan terjadinya bubble properti atau penggelembungan harga. Kemungkinan jauh dari potensi bubble dikarenakan ketiganya, yakni residensial, perkantoran dan kawasan industri memiliki permintaan tinggi dari para enduser (pengguna), bukan investor maupun spekulan. "Untuk dua sampai tiga tahun mendatang, pasar perumahan masih jauh dari potensi terjadinya bubble properti. Karena permintaan tinggi pada pasar ini berasal dari enduser, bukan spekulan," kata Arief Rahardjo, Head of Research & Advisory at PT Cushman & Wakefield Indonesia, dalam paparan kuartal I tahun 2012 di Jakarta, Selasa (1/5/2012). Berdasarkan survei, pasar perumahan akan memiliki permintaan yang tumbuh lebih tinggi dari pasokan saat ini. Permintaan akan lebih meningkat dan berkelanjutan pada 2012 dan 2013. Berdasarkan data survei tersebut, enduser pada pasar perumahan untuk wilayah Jakarta dan Bekasi sebesar 75%, sementara investor hanya 25%. Di kawasan Tangerang, tingkat pengguna rumah sebesar 79%, dan investor sebesar 21%. Di wilayah Bogor dan Depok, 78% pembeli rumah adalah enduser, sementara sisanya sebanyak 22% adalah investor. Di Jakarta, 77% pembeli rumah adalah enduser, sementara 23% lainnya adalah investor. Sumber Kompas.com