Harga Rumah Kian Mekar

Kenaikan harga properti diprediksi masih akan terus berlanjut pada kuartal ini. TERLEPAS dari keluh-kesah pengembang soal sulitnya dewasa ini menjual properti karena pengetatan aturan kredit, harga properti hunian (residensial) ternyata masih terus naik. Demikian pula volume penjualan.

Direktur Eksekutif Departemen Statistik Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia Hendi Sulistyowati menjelaskan laju kenaikan harga properti residensial pada kuartal II lalu lebih tinggi daripada kuartal sebelumnya. “Hal itu dapat dilihat dari Indeks Harga Properti Residensial pada kuartal II 2014 yang tumbuh 1,69% dari kuartal sebelumya,“ jelas Hendi dalam press background di Kantor BI, Jakarta, kemarin.

Adapun volume penjualan properti residensial tumbuh 36,65% (quarter to quarter/qtq) lantaran meningkatnya kebutuhan hunian. Itu lebih tinggi ketimbang kuartal I yang hanya 15,33% (qtq). Dari survei oleh otoritas moneter, kenaikan harga properti berlangsung hampir di semua kota cakupan survei, khususnya Manado dan Makassar untuk tipe-tipe rumah besar. Kenaikan harga diperkirakan lantaran perekonomian lokal yang tengah tumbuh pesat.

Berdasarkan tipe rumah, mekar nya harga juga terjadi pada seluruh segmen, terutama rumah tipe kecil yang harganya meningkat 2,09% (qtq). Kuartal sebelumnya, pertumbuhan harga rumah tipe kecil hanya 1,90% (qtq).

“Rumah ukuran menengah mengalami kenaikan harga 1,79% (qtq) dari kuartal sebelumnya 1,65% (qtq), sedangkan laju harga rumah besar naik 1,20% (qtq) dari 0,80% (qtq),“ tambah Hendi. Meski begitu, imbuhnya, kenaikan harga properti residensial secara tahunan cenderung melambat. Pada kuartal I, laju pertumbuhan tahunan (yoy) mencapai 7,92%, sedangkan kuartal II melambat menjadi 7,40% (yoy).

Survei rutin BI itu juga menunjukan bahwa 73,69% konsumen masih memilih metode kredit pemilikan rumah (KPR) untuk membiayai pembelian rumah idaman. Tingkat bunga KPR perbankan, khususnya kelompok bank persero, berkisar antara 9%-12% per tahun.

“Pada kuartal II, total KPR tercatat Rp301,53 triliun atau tumbuh 5,93% (qtq), lebih tinggi daripada pertumbuhan kuartal sebelumnya yang hanya 1,14%,“ tutur Hendi. Sampai puncaknya Di saat serupa, pertumbuhan penjualan properti komersial melambat, terutama pada lahan industri. Perlambatan terjadi karena para pelaku usaha masih mengambil sikap wait and see pascapemilu, sebelum ekspansi.

Harga jual properti komersial juga terdeselerasi, terutama pada ritel, yaitu 19,18% (yoy), atau lebih rendah daripada periode sebelumnya 25,53%. Perlambatan harga jual itu sejalan dengan lambatnya penjualan. Associate Director for Research dari Colliers International Ferry Salanto menyebut perlambatan pertumbuhan harga pada properti komersial disebabkan sudah mencapai puncaknya. Faktor lain, ada keterbatasan lahan.

“Kemampuan daya beli masyarakat sudah sampai di situ, misalnya harga dalam dua tahun naik dua kali lipat. Konsumen juga masih wait and see dari sebelum pilpres. Jadi, situasinya belum strategis untuk pembelian properti,“ ungkap Ferry. Adapun tingkat hunian properti komersial menurun secara umum, kecuali tingkat hunian hotel yang didorong kegiatan persiapan pilpres. Lebih lanjut, depresiasi nilai tukar rupiah telah membuat biaya sewa properti komersial, seperti apartemen atau hotel, di kota-kota besar Tanah Air menjadi lebih mahal. Tarif sewa apartemen pada kuartal II naik 43,57% (yoy), sedangkan tarif sewa kamar hotel naik 14,47% (yoy). (E-2) Media Indonesia, 14 Agustus 2014, Halaman 18